Suara hati seorang biker/builder/pelaku industri roda dua/ dari Yogyakarta yang terkena imbas gara-gara kejadian memalukan ulah sekelompok bikers!
Dear Media & wartawan/wartawati yang menulis “Agoransi Konvoi Moge”…
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/06/15/07592436/arogan.konvoi.moge.pukuli.pengendara.mobil
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/06/16/07333811/polri.moge.jangan.seenaknya
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/06/17/07085460/Mimpi.Buruk.Moge.pada.Hari.Ulang.Tahun.Si.Bungsu.Radit
Sy pengen-nya hanya diam…Tapi lama lama sesak juga kalo saban hari membaca liputan isi-nya ttg Agoransi Konvoi Moge dijalan mlulu…
Apa lagi kalo mbaca komentar pembaca dibawahnya…
Emangnye sudah berapa ratus / ribu bikers moge yg sdh arogan di jalan, sehingga jadi sebuah momok dijalan yg harus diberantas…? Fu*$% K !!
Sy pribadi sudah muak dengan segala arogancy “wannabe biker” dijalan…
Kalo emang kurang ajar, yaa mohon pak pulisi… itu si oknum bikers ditangkapin diproses, kalo emang takut si oknum melarikan diri ke China, Taiwan, Macau atau Singapore yaa…masukin penjara aja biar gak lari…
Plz lets U know…
Buat membeli “mimpi sebuah motor chopper", sy harus menabung selama bertahun tahun…
Mulai merangkai mimpi, karena budget waktu itu terbatas… yaa akhirnya sy beli sebuah motor tua…tepatnya medio pertengahan th 1991 itupun beli yg murah, yg sudah nyaris kerimbun tanah…kalo motor tua yg sdh layak jalan budget juga nggak kesampean...mulai sy bongkarin, sy bersihin, dicarikan parts yang kurang…dikomplitin… sampai bisa hidup…
Then, baru sy bisa happy riding sama beberapa temen deket…dari yang belajar riding deket2 spt ke kaliurang, solo,magelang…sampai berani riding ke acara motor2 tua di luar kota…semarang, Surabaya, dll…
Sampai akhirnya saya mulai comfort 'n enjoy riding alone kemana mana…
Dari riding itu sy belajar banyak hal ttg kehidupan, yang nggak bisa sy idapetin kalo sy hanya hidup dalam sekatan tembok tembok kantor…kalo sy hanya hidup dibalik layar komputer…
Sebuah “kemandirian”… Akhirnya sy menemukan sebuah kenyataan bahwa kalo mau hidup dijalanan, gak bisa selalu mengharapkan bantuan orang lain… apalagi ketika motor tua yang kita naikin trouble dijalan…
Sy mulai melihat realita dan potret kehidupan yang sebenarnya dari apa yang saya lihat di sepanjang jalan…
Mulai mengagumi keindahan dan kebesaran Negari ini dari perjalanan perjalan 2x yang saya tempuh sendiri…
Mulai belajar be-bhinekaan disetiap daerah yang dilewati, ke-bhinekaan dalam artian yang sebenarnya…
Mulai memaknai arti sebuah "brotherhood" sbg persaudaraan yg sesungguhnya…sy mulai mencari teman di kota lain sebanyak-banyaknya… yaach...minimal kalo touring ke suatu daerah, ada teman yang nunjukin toko spare parts dan nemenin bongkar rumah kopling atau gearbok, atau laker roda…
Hahahaha…
Setelah gonta ganti - tukar tambah, dari motor BMW, ganti BSA, ganti Norton…
Akhirnya setelah motor tua dijual ditambah tabungan pribadi baru beli sebuah Harley Davidson, itu dlm kondisi bekas, bukan baru… mulai start kerja keras lagi, menabung lagi, blanja parts, kemudian men-chopp, merebuilt, painting...sampe jd sebuah motor chopper yg sy impikan...
So, panjang banget perjalanannya untuk punya “sebuah motor chopper impian"..
Yaa, dengan pemberitaan yg bertubi2x…sy merasa di dzolimi oleh media…Media besar yang jargonnya mengangkat hati nurani…
Dengan “seru” nya tulisan di media…Independent bikers yang main motor coz real & main hobby…yang maen motor karena, we hv passion wit motorcycles world… Image-nya jg jadi kena imbas
Kalau sy cermati Image dan opini tulisan di media sengaja mengarahkan pembaca seolah2x all bikers adalah “Golongan/komunitas” org yg menghalalkan segala bentuk kekerasan…
Sampai detik ini sudah 3 hari terturut2x jadi head line tulisan di sebuah media yg paling gede di Indonesia… Ngalah ngalahin berita kampanye-nya capres & cawapres…?
Akhirnya sy berpikir…
Wat da tendency and conspiracy behind all this shitt?
Jangan2x memang berita arogansi moge sengaja diangkat ke permukaan oleh si media…Agar jadi public issue baru…sehingga masalah2x yg sangat krusial, yg sekarang sedang jadi sorotan public tertutup oleh issue baru ini…
Begitu kah??
Wat da fuck wit U guys?
Apa ada orang and or wartawan/wartawati di media ini yang pernah sakit hati karena pengendara moge…?
Pernah mimpi punya pacar seorang pengendara moge tapi nggak kesampaian…atau pernah “nembak” pengendara moge tapi “cinta-nya tolak”?
Ato dulu pernah diputusin cowoknya yang pengendara moge?
Ato dulu pernah sakit hati, coz dulu cewek pujaannya di gebet sama pengendara moge?
Come on…
Dan akhirnya sampeyan melihat kejadian arogansi oknum biker sebagai suatu celah emas untuk menumpahkan unek2x…dan “revenge” sakit hatinya…
Sy mikir begitu karena sy melihat sampeyan antusias bangettt nulisnya…
Tulisan artikelnya bener2x ditulis wartawan/wartawati yg emang jago…
Biasa nulis novel kali yaa… so, empaty si pembaca bener2 di kuras…
Two thumb up 4 yo…!!
But u must remember, fungsi media sebagai control social…bukan sebagai bad image creater…
Think & Act Wisdom…
Jangan berpikir ala yahudi… Wat da fuck wit other people…other community…
Ah, yang penting gue jadi wartawan /wartawati beken…
Tulisan gwe jadi omongan banyak orang…
Rating dan bayaran gwe akhirnya naik tinggi…
Almarhum papa sy pernah bilang:
Klo emang mo nangkep ikan…yaa tangkep ikannya… jangan bikin keruh seisi empangnya karena banyak binatang & makluk lain di dalam empang itu…
Tolong juga sampeyan bikin tulisan yang berimbang dong…
Tulis juga tentang AROGANSI DRIVERS !!!
Sejak sy touring pertama sampai detik ini… sudah gak keitung berapa ratus kali sy hampir celaka di”buang” ke bahu jalan karena arogansi sopir bis…sopir truk… sopir mobil mobil pribadi…sopir rombongan konvoi bermobil…
Kapan yaa media mau nulis hal ini… come on, yang fair lah… jgn hanya nulis arogansi bikers doang…
Kalo mau di omongin lebih detail lagi…dengan kejadian AROGANSI DRIVERS ini sudah berapa ratus nyawa melayang sia sia…
Coba cari data akuratnya di kepolisian…
Kalo sampeyan bisa mengangkat hal ini…menggalang public opinion & social act…
Sy yakin effort-nya lbh besar & terasa…banyak ratusan nyawa dijalanan yg akan terselamatkan…
Salam - Forever Two Wheels…
Read More...
Sabtu, 20 Juni 2009
Surat terbuka kepada Media & wartawan/wartawati yang menulis “Arogansi Konvoi Moge”…
Diposting oleh Arif Syahbani di 13.12 6 komentar
Jumat, 22 Mei 2009
GP Mono : 100 Juta untuk ke MotoGP
Menyambung tulisan soal GP Mono sebelumnya, menjelang seri II akhir bulan ini (30-31 Mei) dari lima seri yang dilombakan ( 1 Maret, 31 Mei, 28 Juli, 25 Oktober dan 22 November) di Sentul, saya banyak mendapat bocoran mengenai regulasi anyar Indonesia GP Mono Championship 2009. Pertanyaannya adalah, apakah pada seri kedua nanti, eforia balapan ini akan semeriah sebelumnya? Bisa ya, bisa juga tidak. Kenapa? Dari hasil bocoran tersebut panitia akan menerapkan beberapa aturan yang pada seri sebelumnya (1 Maret) belum diumumkan kepada para pembalap dan tim mengingat keterbatasan waktu hingga munculnya issue memenggal jadwal Kejurnas Motoprix seri III yang sedianya dilangsungkan di saaat yang bersamaan di Yogyakarta.
Oke, lupakan dulu soal itu, rasanya lebih penting membicarakan mengenai perkembangan GP Mono yang menurut sumber terpercaya adalah The Right Road to Moto GP. Ya, dengan adanya pembatasan mengenai emisi gas buang di MotoGP khususnya kelas GP 125, maka pihak FIM dan Dorna mulai ancang-ancang menggantinya dengan kelas 250 cc 4 tak, sedangkan kelas GP250 mulai tahun depan mulai melombakan kelas 600 cc yang mesinnya sudah diumumkan dipasok secara resmi oleh Honda.
Mari kita lihat dulu sekilas GP Mono, yang sebelumnya telah digelar di negeri asalnya motor rakitan Moriwaki Engineering Jepang dengan menggunakan basis mesin motocross 250 cc dan disandingkan dengan chassis buatanya. Moriwaki merancang chassis-nya dengan menggunakan twin spar aluminium satu paket dengan swing arm yang dirancang simetris serta meminimalisir getaran yang timbul dari dapur pacunya. Bodiparts yang lainnya pun didesain simple serta menggunakan system bracket untuk memudahkan merakitnya, sedangkan suspensinya dicomot dari Honda RS 125 berikut velg dan komponen roda serta remnya. Hubungan yang erat antara Moriwaki dan Honda mengantarkannya seolah menganakemaskan Honda dalam proses perakitan motor ini, padahal, semua jenis mesin motocross yang dikenal handal bisa diinstal di dalamnya. Sebagai gambaran, di seri GP Mono di Sugo tahun lalu, beberapa mesin di luar Honda justru jauh lebih kencang :
1 yz250 engine 131.760km 1,40,573
2 yz250 engine 131,753km 1.40,396
3 rm250 engine 131,521km 1,40,752
4 crf250 engine 131,473km 1,40,886
5 wr250 engine 130,620km 1,41,069
6 wr250 engine 130,638km 1,40,828
7 crf250 engine 129,280km 1,42,800
8 tm250 engine 129,271km 1,42,343
22 ktm250 engine 125,206km 1,46,020
25 kx250 engine 120,847km 1,48,301
Balapan ini kemudian diaplikasikan di Italia, Kanada, Spanyol dan Australia. Dan Indonesia menjadi Negara kelima yang mengadopsinya demi memasilitasi prestasi pembalap lokal yang ingin berkiprah ke jenjang balap dunia melalui jalan yang benar, begitu promosinya. Yang disasarnya tentu saja pembalap-pembalap muda di rentang usia 14-18 tahun seperti halnya konsep balapan di Negara lain. Sebanyak 30 unit GP Mono sudah mengisi pit di Sentul dengan target utama adalah menjual kepada tim-tim balap agar mereka terbuka pikirannya tidak sekadar balap bebek/underbone melulu. Harga yang ditawarkan pada waktu itu ada di rentang kira-kira Rp 130 jutaan. Mahal? ya. Unit motor masuk, badai krisis menghantam. Boro-boro untuk beli motor dan ikut balap GP Mono, mencari sponsor untuk tim bebeknya saja sudah sulit ATPM pun menghitung ulang komposisi balapan ego OMR-nya serta suntikan dana untuk tim-timnya.
Penyelenggata akhirnya memutar otak dengan mencari penawaran yang bisa meringankan beban para peserta yang berniat ikut. Akhirnya diputuskan dengan konsep sewa. Menyetor Rp 100 juta untuk lima seri. Akhirnya di seri perdana lalu ditemukan 15 starter meskipun pada kenyataanya pembalap uzur sekelas Petrus Tobun ikut turun gunung, demi menjaga gengsi ini tetap berlangsung dengan iming-iming live di TV dan dilangsungkan bersamaan seri Kejurnas Supersport. Banyak yang masih kagok, karena mereka hanya diijinkan turun pada sesi kualifikasi dengan system undian. Malah balapan nyaris batal karena penyelenggara dipusingkan dengan ketidaktersediaan ban jenis basah. Untunglah seri tersebut berjalan sukses! Salut! Pembalap tampil agresif dan mengetengahkan persaingan yang seru.
Untuk membuat seri kedua dan selanjutnya lebih meriah sekaligus kompetitif, penyelenggara konon akan menerapkan beberapa aturan baru, sepert dibolehkan membranding motornya dengan logo-logo sponsor di atas satu set fairing yang merupakan bonus bial telah melunasi pembayaran, kemudian no start pun bisa memakai sesuai no kebanggaan pembalapnya, satu set ban, membranding pit dengan biaya tambahan serta diadakannya kelas konstruktor yakni, kejuaraan tim yang memiliki lebih dari satu tim balap. Satu hal yang terlewatkan, bahwa rencananya penghitungan poin untuk mendapatkan juara yang nantinya akan dikirim ke kejuaraan GP Mono di All Japan Championship 2010 akan diambil tiga seri terbaik dari lima seri yang dilangsungkan. Ini untuk mengakomodasi peserta lain di luar peserta yang telah mengikuti seri perdana lalu. Oya, motor juga akan dibagikan pada hari Jumat menjelang QTT secara diundi dan tentu saja, semua settingan motor tidak boleh diubah kecuali suspensi.
Sayangnya, hingga menjelang waktunya, sosialisasi ini belum juga dilakukan, padahal mestinya dari sekarang hal tersebut dilakukan. Hal ini untuk menarik minta peserta lain meski issue one make race mesin tetap saja terdengar hingga membuat alergi ATPM lain. Harusnya, buang saja sikap itu demi kemajuan balap nasional, toh masing-masing tim tidak membawa nama bendera brand motor sebagai sponsornya.
Oya, hadiah utama selain perserinya diganjar uang total Rp 10,000,000,- (juara 1 Rp 5,000,000,-, juara dua Rp 3,000,000,- dan juara 3 Rp 2,000,000,-) juara umum seri ini plus satu unit sepeda motor, akan mengikuti kejuaraan di Jepang tahun depan dengan ganjaran bila masuk tiga besar akan dikirim lagi ke seri berikutnya. Bisakah kompetitif pembalap kita di sana?mengingat mereka hanya ikut lima seri dengan total race bila termasuk dengan Free practice dan QTT adalah 15 kali.
Mungkin semestinya untuk seluruh peserta diberikan pelatihan secara bersama di antara jeda balap untuk membuat mereka terbiasa balap dengan menjepit tanki, mengingat mayoritas pembalap kita terbiasa dengan motor bebek.
Semoga saja akan muncul pembalap kita yang nggak Cuma jago di balapan kwek kwek saja!
Read More...
Diposting oleh Arif Syahbani di 13.08 2 komentar
Emergency Response & Risk Handling

Ayo ikuti EMERGENCY RESPONSE & RISK HANDLING, Minggu 24 Mei 2009, Bukit 4x4/HAZ - Pondok Cabe, mulai Pk. 09.00. Keikutsertaan Rp. 50.000,-
Untuk yang pengen tahu kontak : Budi Respati Track (Trail Adventure Community Jakarta)
0816841365
Read More...
Diposting oleh Arif Syahbani di 12.57 0 komentar
